Kabar mengenai kematian seorang laki-laki african-american akibat tindakan rasis aparat penegak hukum belakangan merebak di mana-mana. Kejadian ini tentu, if not ridiculous, benar-benar mengecewakan dan memprihatinkan. Suatu malam di tengah bulan juni pikiran saya melambung jauh membayangkan tentang kejadian ini, dan berkaca pada kejadian-kejadian dalam sejarah peradaban manusia. Apa yang saya temukan dari bayangan-bayangan itu pada akhirnya bermuara pada perasaan mual dan muak pada kehidupan. Sungguh ironis bila membayangkan sesuatu seperti rasisme yang demikian bisa terjadi, bagaimana kita sebagai sesama manusia, yang berakar dari satu spesies yang sama, nenek moyang yang sama, hidup dan berkembang bersama-sama di muka bumi sepanjang zaman, bisa berakhir saling membenci hanya pasal berbeda warna kulit, dimana hukum kemanusiaan didasarkan pada banyak atau sedikitnya kadar melanin di dalam tubuh. Yang sebetulnya hal itu pun terberi begitu saja sejak lahir tanpa bisa diubah ataupun punya kuasa untuk mengubahnya.
Padahal ada begitu banyak kesamaan lain yang luput dari pandangan kita. Aren't we all human being, living under the same roof called sky, and sleeping under the same bed called earth? eating the same kind of food and breathing the same kind of air? Sesekali, tidakkah kita merasa jengah dan terhina kepada semesta langit yang melihat dan mengamati dalam diam dan teduh dari atas sana dibalik kepekatan malam, semua laku kekacauan yang kita perbuat di dunia. Mungkin baginya, manusia seperti anak-anak kecil yang tak pernah habis bertengkar selama berabad-abad memperebutkan sepotong permen bernama kekuasaan. Tragedi kematian George Floyd ini, tidak lain merupakan cerminan dari infantilitas manusia, refleksi atas ketidakdewasaan peradaban kita.
Rentang hidup rata-rata manusia sebetulnya relatif singkat. Satu bayi sapiens kira-kira hanya mampu bertahan hidup sampai 60-80 tahun. Untuk sapiens yang cukup beruntung, mungkin dapat bertahan hidup sampai 100 tahun, itupun kalau tak merasa bosan dengan kehidupan. Karena ketika telah mencapai usia senja, perlahan-lahan kemampuan inderawi dan pisikis manusia akan mulai melemah dan sakit-sakitan. Memori dan ingatannya pun akan mulai memudar. Sementara itu, sejarah umat manusia di muka bumi telah berlangsung selama lebih dari ratusan ribu tahun yang lalu. Tapi nyatanya kita tidak pernah cukup dewasa untuk mampu melakukan kebaikan-kebaikan yang sebenarnya mendasar, kita tidak pernah tidak khilaf untuk melakukan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang sebetulnya sederhana; seperti tidak mengambil apa yang bukan milik kita, atau misalnya, saling menghargai sesama manusia.
Andai kata kita boleh membuat asumsi humanis sederhana, sebetulnya masalah-masalah besar yang timbul di tengah-tengah manusia di dalam sejarah bukanlah masalah yang berasal dari keadaan dunia itu sendiri seperti hukum-hukum fisika atau keterbatasan sumberdaya yang terhampar luas, melainkan sebetulnya masalah yang asalnya kita buat sendiri (sistemik). Sepanjang peradaban manusia hidup di muka bumi, sepanjang itu pula sifat ceroboh dan kekanak-kanakan kita tidak pernah putus dari sejarah kelam umat manusia.
Jika memang manusia pada dasarnya bersifat kejam dan jahat, jika memang egoisme adalah sifat yang lekat dan tertanam secara inheren di dalam diri kita, lantas sebenarnya apa gunanya Tuhan menciptakan manusia sama sekali. Ataukah jangan-jangan kita ini memang ditakdirkan untuk saling berperang. Mengingat semua pahitnya realita dunia itu, saya menyangsikan, jika kita sebagai manusia sudah punya cukup alasan untuk membenci sesama hanya dengan perbedaan warna kulit, bagaimana jadinya jikalau Tuhan sejak awal menciptakan dunia dimana orang-orang terlahir dengan kemampuan inheren fisik yang berbeda-beda secara ekstrim? Sedikit perbedaan minor saja sudah mampu memecah belah manusia, lantas bagaimana bila kita dilahirkan dalam keadaan bentuk fisik dan rupa yang benar-benar sepenuhnya saling berlainan dan asing? Kekalutan macam apa yang akan terjadi? Kegaduhan seperti apa yang mungkin akan kita perbuat?
Alih-alih kesan mentah dan ketelanjangan (nakedness) yang saya dapat, terkadang dunia yang teramati justru terkesan begitu tendensius. Tendensius kepada hal-hal buruk, kejam, dan seabrek adjektiva negatif lainnya. Benar-benar mengherankan. Sudah sejak beberapa tahun yang lalu saya memutuskan untuk resign dari hiruk-pikuk optimisme peradaban. Selain karena saya tidak sebrilian orang-orang bijak seperti Gandhi, Siddharta, Muhammad, atau Marx yang masih menaruh harapan mulia kepada kemajuan dan potensialitas umat manusia, kehidupan bagi saya sendiri sudah cukup keras dan heartless. Dunia sudah begitu dingin, sepi, dan tak acuh. Realitas sudah selalu buta, penuh pengkhianatan dan kepalsuan.
Meskipun di balik pendirian pesimistik itu, sejujurnya di hati kecil saya masih berharap bahwa dunia dapat menjadi tempat yang lebih baik suatu saat. Namun lagi-lagi pikiran negatif sekelebat memenuhi kepala saya.
"Mungkinkah hal semacam itu?"
"Haruskah kita terus berharap?"
Apakah... akan pernah ada,
sebuah utopia semacam itu di dunia?
Padahal ada begitu banyak kesamaan lain yang luput dari pandangan kita. Aren't we all human being, living under the same roof called sky, and sleeping under the same bed called earth? eating the same kind of food and breathing the same kind of air? Sesekali, tidakkah kita merasa jengah dan terhina kepada semesta langit yang melihat dan mengamati dalam diam dan teduh dari atas sana dibalik kepekatan malam, semua laku kekacauan yang kita perbuat di dunia. Mungkin baginya, manusia seperti anak-anak kecil yang tak pernah habis bertengkar selama berabad-abad memperebutkan sepotong permen bernama kekuasaan. Tragedi kematian George Floyd ini, tidak lain merupakan cerminan dari infantilitas manusia, refleksi atas ketidakdewasaan peradaban kita.
Rentang hidup rata-rata manusia sebetulnya relatif singkat. Satu bayi sapiens kira-kira hanya mampu bertahan hidup sampai 60-80 tahun. Untuk sapiens yang cukup beruntung, mungkin dapat bertahan hidup sampai 100 tahun, itupun kalau tak merasa bosan dengan kehidupan. Karena ketika telah mencapai usia senja, perlahan-lahan kemampuan inderawi dan pisikis manusia akan mulai melemah dan sakit-sakitan. Memori dan ingatannya pun akan mulai memudar. Sementara itu, sejarah umat manusia di muka bumi telah berlangsung selama lebih dari ratusan ribu tahun yang lalu. Tapi nyatanya kita tidak pernah cukup dewasa untuk mampu melakukan kebaikan-kebaikan yang sebenarnya mendasar, kita tidak pernah tidak khilaf untuk melakukan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang sebetulnya sederhana; seperti tidak mengambil apa yang bukan milik kita, atau misalnya, saling menghargai sesama manusia.
Andai kata kita boleh membuat asumsi humanis sederhana, sebetulnya masalah-masalah besar yang timbul di tengah-tengah manusia di dalam sejarah bukanlah masalah yang berasal dari keadaan dunia itu sendiri seperti hukum-hukum fisika atau keterbatasan sumberdaya yang terhampar luas, melainkan sebetulnya masalah yang asalnya kita buat sendiri (sistemik). Sepanjang peradaban manusia hidup di muka bumi, sepanjang itu pula sifat ceroboh dan kekanak-kanakan kita tidak pernah putus dari sejarah kelam umat manusia.
Jika memang manusia pada dasarnya bersifat kejam dan jahat, jika memang egoisme adalah sifat yang lekat dan tertanam secara inheren di dalam diri kita, lantas sebenarnya apa gunanya Tuhan menciptakan manusia sama sekali. Ataukah jangan-jangan kita ini memang ditakdirkan untuk saling berperang. Mengingat semua pahitnya realita dunia itu, saya menyangsikan, jika kita sebagai manusia sudah punya cukup alasan untuk membenci sesama hanya dengan perbedaan warna kulit, bagaimana jadinya jikalau Tuhan sejak awal menciptakan dunia dimana orang-orang terlahir dengan kemampuan inheren fisik yang berbeda-beda secara ekstrim? Sedikit perbedaan minor saja sudah mampu memecah belah manusia, lantas bagaimana bila kita dilahirkan dalam keadaan bentuk fisik dan rupa yang benar-benar sepenuhnya saling berlainan dan asing? Kekalutan macam apa yang akan terjadi? Kegaduhan seperti apa yang mungkin akan kita perbuat?
Alih-alih kesan mentah dan ketelanjangan (nakedness) yang saya dapat, terkadang dunia yang teramati justru terkesan begitu tendensius. Tendensius kepada hal-hal buruk, kejam, dan seabrek adjektiva negatif lainnya. Benar-benar mengherankan. Sudah sejak beberapa tahun yang lalu saya memutuskan untuk resign dari hiruk-pikuk optimisme peradaban. Selain karena saya tidak sebrilian orang-orang bijak seperti Gandhi, Siddharta, Muhammad, atau Marx yang masih menaruh harapan mulia kepada kemajuan dan potensialitas umat manusia, kehidupan bagi saya sendiri sudah cukup keras dan heartless. Dunia sudah begitu dingin, sepi, dan tak acuh. Realitas sudah selalu buta, penuh pengkhianatan dan kepalsuan.
Meskipun di balik pendirian pesimistik itu, sejujurnya di hati kecil saya masih berharap bahwa dunia dapat menjadi tempat yang lebih baik suatu saat. Namun lagi-lagi pikiran negatif sekelebat memenuhi kepala saya.
"Mungkinkah hal semacam itu?"
"Haruskah kita terus berharap?"
Apakah... akan pernah ada,
sebuah utopia semacam itu di dunia?
Depok, 11 Juni 2020
0 Thoughts:
Posting Komentar