Journal Of a Dreamer

Agustus 11, 2018

A Letter about Existential Crisis

9:59 AM Posted by Bayu Aji Pamungkas No comments

Dear, my Mauvaise Foi friend.
Lack of motivation could kill you. I am thoughtfully serious when i say this, Frank. Who said knowing about the existential essence of your life gonna be amusingly pleasant like finding out any other things? When i woke up from an awful dream this morning and found out that i do not possess any inherent point of living, i particularly felt like i was absently lost somewhere. I could not distiguishly grasp my own-self. I am just a present Being in this cosmos, striving for the right path. But there is no such a right path. So i look around and seek for the true purpose. But frantically there is no such a true purpose.

I could get the picture when Albert repeatedly said do not commit suicide, and that i should embrace the journey. But you know what, Frank? that anxiety will not stop. It would haunt us all dreadfully. Fancy material possessions might comfort me for a while, and luxurious bourgeois pleasures might help to calm me a little. It is, however, certain that every mortal being will perish into nothingness.

There is no way we can escape the absurdity. But i could not bravely face this tormented nightmare either. And you frank, yes you! You can stop pretending like you will be blissfully dying in heavely fantasy and hiding yourself behind those bad faith. It makes me sick.

-Solo, 28th of July 2018

Juli 02, 2018

On Imperfection

4:12 PM Posted by Bayu Aji Pamungkas No comments
Dalam hidup sesungguhnya apa yang kita maksud sebagai menjadi manusia itu?
Malaikat dan iblis mengajarkan kita tentang makna menjadi manusia
Malaikat yang sempurna
Dan iblis yang serba cacat
Manusia tak mungkin dapat menjadi sepenuhnya malaikat seperti juga tak mungkin menjadi sepenuhnya iblis
Dalam relung-relung hati manusia, terdapat separuh malaikat dan iblis yang dengannya kita hidup dan berjalan menembus waktu
Hidup adalah tentang menghargai ketidaksempurnaan.
Lalu dalam ketidak sempurnaannya itu, 
terdapat kebaikan dan noda kejahatan dalam diri manusia, 
ada kasih dan emosi yang terkadang diselusupkan melalui perbuatan, 
terdapat kemurnian hati namun nafsu yang menggelora, 
ada kegembiraan diantara kegetiran yang silih berganti dirasakan, 
ada kegagahan dalam kelayuhan, 
ada kebanggaan diantara keterhinaan, 
ada kerendahatian di sela-sela keangkuhan. 

Di dalam kedua hal yang saling bertentangan itu, terpetik sebuah keseimbangan yang menenangkan. 
Menjadi manusia berarti menjadi indah sekaligus menjadi cacat. 
Yang membuat manusia menjadi manusia Bukanlah kesucian yang tanpa kutukan, 
melainkan kesediaan untuk menerima bahwa inilah manusia sebagai eksistensi: 
menjadi sempurna karena ketidaksempurnaannya.