Benar bahwa mantan udah ninggalin luka yang mendalam dan ngebentuk diri gue yang sekarang; jadi gamau nikah, fragile soal cinta, ga bisa percaya lagi sama orang, gak mau menggantungkan harapan sm siapapun, punya trust issue yang extremely buruk, skeptis sama kebaikan siapapun, pesimistis dengan segala bentuk cinta yang selfless. Benar bahwa masa lalu itu traumatik. Lebih-lebih ketika gue tau gimana rasanya dibohongi berkali-kali secara hampir tidak terhitung jumlahnya oleh orang yang harusnya paling selalu bisa gue percaya kapanpun dan dimanapun. Benar bahwa gue sudah berusaha sekuat tenaga di saat-saat terakhir semampu gue untuk memperjuangkan tapi gue ngerasa kayak perjuangan gue nggak dianggap ada. Gue merasa benar dalam banyak hal atas dia.
Tapi kalo gue menyalahkan mantan sampe mati atas kesalahan-kesalahan yang dia lakukan di masa lalu dan segala kekurangannya dia, gue gaakan menuntaskan apapun, it will solve nothing, of course selain ego selfish gue yang seolah-olah gapernah habis ngebutuhin "dukungan kebenaran" dari orang lain.
Putus cinta itu justru sarana kritik diri; gue jadi tau persis kurangnya gue itu sebenernya dimana.
Karena dari pengalaman gue ini, gue jadi berkesimpulan: kebijaksanaan dalam putus cinta adalah ketika kita menyadari bahwa yang melulu pantes disalahin dari tragedi putus cinta itu BUKAN lah dia sepenuhnya, (seperti, yang mungkin biasa kita lakuin selama ini karena kita selalu ngerasa ingin bener), melainkan yang terpenting: berkaca pada diri kita sendiri. Mungkin kita nggak cukup mengerti dia dan kemauannya. Mungkin kita terlalu egois/posesif pengen miliki dia sepenuhnya. Mungkin kita terlalu tegas dalam memperlakukan dia. Mungkin kita terlalu berlebihan dalam mencintai dia. Atau bisa jadi juga kita terlalu jarang mikirin perasaan dia ketika melakukan sesuatu yg mungkin nyakitin perasaan dia. Mungkin kita terlalu sibuk sama diri sendiri kita tanpa sadar memperlakukan dia seolah-olah dia gak berarti apa-apa dibandingin kepentingan personal kita, atau parahnya lagi misalnya seperti rintangan dalam kemajuan hidup kita. Mungkin kita kesel dia selingkuh tanpa pernah memahami kenapa dia selingkuhin kita; mungkin kita gapernah berusaha buat nyenengin dia atau memenuhi kebutuhannya; atau menjadi ada saat dia butuh. Atau bahkan mungkin, selama ini kita sudah selalu egois.
Karena dari pengalaman gue ini, gue jadi berkesimpulan: kebijaksanaan dalam putus cinta adalah ketika kita menyadari bahwa yang melulu pantes disalahin dari tragedi putus cinta itu BUKAN lah dia sepenuhnya, (seperti, yang mungkin biasa kita lakuin selama ini karena kita selalu ngerasa ingin bener), melainkan yang terpenting: berkaca pada diri kita sendiri. Mungkin kita nggak cukup mengerti dia dan kemauannya. Mungkin kita terlalu egois/posesif pengen miliki dia sepenuhnya. Mungkin kita terlalu tegas dalam memperlakukan dia. Mungkin kita terlalu berlebihan dalam mencintai dia. Atau bisa jadi juga kita terlalu jarang mikirin perasaan dia ketika melakukan sesuatu yg mungkin nyakitin perasaan dia. Mungkin kita terlalu sibuk sama diri sendiri kita tanpa sadar memperlakukan dia seolah-olah dia gak berarti apa-apa dibandingin kepentingan personal kita, atau parahnya lagi misalnya seperti rintangan dalam kemajuan hidup kita. Mungkin kita kesel dia selingkuh tanpa pernah memahami kenapa dia selingkuhin kita; mungkin kita gapernah berusaha buat nyenengin dia atau memenuhi kebutuhannya; atau menjadi ada saat dia butuh. Atau bahkan mungkin, selama ini kita sudah selalu egois.
Terlepas dari yang manapun itu, solusi dari berbagai konflik terkadang bukanlah penyangkalan (denial), melainkan penerimaan/pengakuan (acceptance) yang benar-benar tulus atas kekurangan-kekurangan diri kita di masa lalu. Putus cinta bukan soal "i am standing so strongly on my stance, i've done a lot of good things for her/him, i've been a completely good person to her/him so nobody can point a finger to me and say that i was wrong in this breakup tragedy". No. Because it's over. semua sudah berakhir. Nggak ada gunanya main menang-menangan, atau siapa yang paling bener dibanding siapa. Melainkan "yes i know she might have done a lot of bad things, but so have i. And i willingly accept myself to be imperfect in the past. I accept myself that i was such a fool back then. I was so wrong about everything that hurt you and your feeling. I failed to make you stay, i failed to be a good partner for you. Thanks for telling me about all my mistakes, by leaving me. You were very precious, because i never realize that and have always been blinded on how i might be such a jerk this whole time. Because of your help, I am able to change myself."
Tindakan/ritual psikologis untuk berdamai dengan kesalahan diri sendiri ini gue sebut sebagai Atelics (greek: Ateleia for; ketidaksempurnaan diri), sebuah kata yang sering kita abaikan begitu saja dalam kamus hidup kita.
Because we've been forced by the optimistic society to always be seen "good" in public, something like sin-less angel, like Gandhi, that when a tragic event happens, we always try to show ourselves as the good and moral person, the angelic side of the tragedy. We always almost forget that we're just merely human being. That it is okay to admit that we do wrong.
Just like in a relationship where there is no side who is completely right and the other side is completely wrong, nobody is purely white just as nobody is purely black. Each of us is always a combination of angel and demon. By acknowledging ourselves about our imperfection, we, then, will eventually be able to transcend ourselves into a higher being, to move forward, to fix our mistakes. If we never accept ourselves to be imperfect and always be denial to criticism, there will be no room for improvement. We will always stay on the same point in life, prisoned in a static condition that we created ourselves, for the rest of our lives.
A best kind of critique is a constructive critique from us to ourselves. Because once we openly accept the fact that we are wrong, we automatically know what is the right thing we were supposed to do--that we didnt do, so we can do it the next time when we encounter the same situation again.
0 Thoughts:
Posting Komentar