Kematian Manusia
kita semua semu yang bersemayam dalam gagasan
Tertindas dalam kehampaan makna
Kita adalah jiwa-jiwa yang telah kehilangan hidup,
yang dipasung dalam waktu
yang terbuang dalam takdir mengutuki dirinya sendiri
Meledaknya tawa para borjuasi
Kau bilang kita harus lawan
resah memberontak
gerah pun meronta
Kita diperah bagai ternak
Kita mesin yang terus berpacu
bagai roda kereta api yang melaju memburu
Hidup di antara pabrik kumuh dan asap berdebu
Bising bergemuruh
Keringat dan peluh
Hitam pekat
Dasi sang keparat
23 jam sehari nyaris,
kita bukan lagi manusia
Kita bagai robot bernyawa
Boneka bagi tikus-tikus laknat
Mainan bagi para korporat
Ransum untuk para pengerat
Kita mengais-ngais hikmat
Di atas tumpukan sampah modernitas
Untuk inikah sesungguhnya kita dilahirkan?
Jika ada kehidupan yang bermakna
Semoga Tuhan sisakan satu untuk kita
Depok, 7 Januari 2019
-----------------
Takdir itu ilmiah
Sampai suatu ketika
Telingamu kutarik
Matamu bingung menelisik
Hingga kau sadar lepas aku berbisik
Bahwa rencana ini bukan semata imajinasi
yang kau gantung di langit-langit pabrik
Ini adalah takdir yang digariskan
Takdir itu ilmiah, dan kebahagiaan akan tiba
Aku dan kau
bangkit untuk melawan
Lantas kita memberontak menerjang
Kau koyak rasionalitas mereka yang hina
Kau lemparkan harga diri hedonisme ke tong sampah
Kau jerati semua keserahakan di dunia
Dengan satu notasi pemberontakan
Tumpah ruah segala asa yang kau rasa
Kau buat mereka sadar
Kita ini insan yang bernadi
Bukan mesin mekanis yang kosong tanpa isi
Sampai persaudaraan mengangkat bendera
nada-nada kebebasan akan digaungkan
Keadilan akan ditegakkan
kita merdeka
Kau menangis haru
Kepala tikus-tikus itu diarak keliling kota
Nyanyian solidaritas bergema
Bendera perjuangan berkibar gagah
ini takdir kita, sobat
Ini kebebasan kita
Hanoi, 15 Januari 2019
------------
Adakah Utopia
Adakah Utopia
Adakah bahagia
Adakah keadilan disela keputus-asaan
Kini kau bodohi kami
Dulu kau bilang kita semua setara
Tapi ranjangmu empuk,
Kami tidur di emperan lapuk,
Kini kau khianati janji,
Dulu kau bilang semuanya milik bersama
Tapi kau curi sebagian milik kami
untuk kepentingan pribadi
Kau jerat leher kami yang merengek keadilan
Kau eksekusi kami yang menuntut hak
Kau buat semangat kami padam
Jagal, bantai, hantam
Sampai tak habis bau darah cemari udara
Satu persatu dari kami kau singkirkan
Inikah yang kita impikan dahulu, sobat?
Adakah utopia di dunia?
Kau memang korup
Pembual yang bersembunyi
dibalik propaganda fantasi
Aku lebih-lebih menangis
Menyumpah serapah segala manifesto yang kita ikrarkan bersama
menyesali kenaifan atas manusia
Meringis diantara kemunafikan dan kebusukan dunia
Berteriak hingga muak
mengimpikan utopia
takkan pernah jadi nyata
Rupanya tak ada hidup bermakna
untuk kita
Dan tuhan telah pergi
Dan dunia membuang pandangannya
Di atas singgasana para
Kau duduk dengan congkak
Di tempat yang sama dengan mereka
Kau tidur nyenyak
Di antara lusinan pengawal bersenjata
Maka biarkan aku yang tak bahagia
terus bekerja dalam jasmani yang meredup
mati dalam tubuh yang hidup
sampai akhirnya nanti,
aku menua dan tetap menderita
meringkuk membusuk disela-sela kepolosan semesta
Saigon, 1 Februari 2019