Journal Of a Dreamer

November 14, 2025

Konon Kita Semua Pemimpi

10:07 AM Posted by Bayu Aji Pamungkas No comments

 “born to be adventurous. ternyata grow old to be pekerja kantoran.” semacam lelucon yang belakangan makin relevan untuk mentertawai kehidupan pahit orang dewasa.

just the other day i went to kampus UI, seeing the generation look so lively and young and artsy and stress-free, and just for a split second i felt like to be home where my soul should be.


terkadang aku merasa terlalu cepat lahir. seandainya tahun segini aku masih haha hihi kuliah sastra, memaki-maki novel Leo Tolstoy di kantin kampus seusai kelas, berdebat intelek dengan kawan sekufu sambil menghisap berbatang-batang marlboro kretek.


tapi tubuh biologis menjadikan kita makhluk yang sadar akan betapa berharganya waktu. dunia terus berputar tanpa henti layaknya ular besar raksasa yang bergerak tanpa arah.


kehidupan sunyi kita saat beranjak dewasa berubah jadi titik titik kecil di ujung doa. riuh semangat dan ringan asa saat remaja berubah jadi tangis sepi pengharapan semoga esok diberi masalah yang tak lagi terlalu berat. tak lagi hal-hal yang muluk-muluk.


buat sebagian orang, sunyi ini tanda pendewasaan. namun kita tahu bahwa ini hanya bualan yg kita rapal layaknya mantra karena kita gagal mengenggam dunia dan bahwa dunia terlampau besar untuk ditaklukkan.


•••


konon kita semua pemimpi. seharusnya tak segampang ini dikalahkan usia.

September 05, 2025

Betapapun besar cinta

4:29 PM Posted by Bayu Aji Pamungkas No comments

betapapun besar cinta.

di alam raya 

yang ledaknya memecah sunyi merengkuh dunia 

yang duduk di sudut-sudut gelap kesendirian,

yang memperkawan semesta, menggandeng 

tangan mungilnya agar ia belajar bersuka cita

yang darinya hidup, dan impian, dan perasaan, dan

sengsara, 

dan derita, 

dan gemerlap keemasan yang kilatnya berpendar 

dalam keagungan peradaban manusia.


betapapun besar cinta.

semoga bara kita masih tersisa.


Jakarta Barat, 28 Oktober 2024

A Letter To My Dying Self

4:24 PM Posted by Bayu Aji Pamungkas No comments

Loving at 26 feels like smoking a cigarette down to the butt, then realizing you’ve only got another one left and the lighter’s nowhere to be found. The fire’s almost out, so you’re desperate to light the last one with trembling hands. When it finally burns, you savor every breath, letting it fill your lungs, knowing deep down this last one too will burn out, leaving only ashes behind.

It is only after some long and sad months I decided to go out for a nightride at 2am in december when the wind howled with force as it touched my hair and the weather was cold as it pierced into my skin. That I’ve finally came into one radical conclusion. 


Starting today, I’ll choose to let go of counting years: to entirely erase my biological age from my life forever and live authentically, to cherish moments with kindhearted people in each fleeting second. I want to try once again to live beyond the given societal prisons and above the tyranny of biological clock. That shall be my manifesto of (perhaps) the last years of life. To start anew and be reborn one last time.


I’ve decided. Since the beginning of my last heartbreak with her. That this time, I’ll turn my life into an art. and I’ll make the best out of it.


December, 2024

Juli 21, 2024

Dear ex.

9:16 AM Posted by Bayu Aji Pamungkas 2 comments

hi. how have u been? 

i know this text might come so suddenly. 

It is not like i havent moved on. I dont know.

I am pretty sure i have.

Strangely last night i had a dream about you.

you were taking a holiday with your partner, to vietnam. and you somehow took some romantic pictures & videos with him in the places i’ve once been to.

the dream framed it as a nightmare, and i found myself walking like a drunk person to the toilet to wash my face cuz i got an extreme headache. 

Again, it is not like i haven’t moved on. After our breakup, I have dated another girls, i had fallen in love, went through some heartbreaks too.

But i love how some random memories of someone in our lives suddenly strike us in the normalcy of life. Memories indeed has such strong power to distort your-already-clear mind.

And all of sudden, it leaves the feeling of emptiness in your heart. It is strange, it is not love either. Insecurity? Perhaps. Fragility? Maybe. Or just the universe being goofy and trivial.


Anyway i just wrote this text just to make me feel a bit better because holding it alone feels heavy.

Also, putting aside the nightmare that i had, i am actually very happy for your relationship with the new partner, i truly truly am. Hope he doesnt hurt you the way i did, and loves you more than i do. 


I expect you not to reply this message. Just want to let my emotions out. So thank you if you manage to read it till this part.


Please always take care of your health,

and be happy.


warm regards,

Your ex.



Agustus 13, 2020

Trilogi Sajak untuk Pengkhianatan Komunis Soviet

5:40 PM Posted by Bayu Aji Pamungkas No comments


Kematian Manusia

kita semua semu yang bersemayam dalam gagasan
Tertindas dalam kehampaan makna
Kita adalah jiwa-jiwa yang telah kehilangan hidup,
yang dipasung dalam waktu
yang terbuang dalam takdir mengutuki dirinya sendiri

Meledaknya tawa para borjuasi
Kau bilang kita harus lawan
resah memberontak
gerah pun meronta
Kita diperah bagai ternak
Kita mesin yang terus berpacu
bagai roda kereta api yang melaju memburu
Hidup di antara pabrik kumuh dan asap berdebu
Bising bergemuruh
Keringat dan peluh
Hitam pekat
Dasi sang keparat
23 jam sehari nyaris,
kita bukan lagi manusia
Kita bagai robot bernyawa
Boneka bagi tikus-tikus laknat
Mainan bagi para korporat
Ransum untuk para pengerat
Kita mengais-ngais hikmat
Di atas tumpukan sampah modernitas

Untuk inikah sesungguhnya kita dilahirkan?
Jika ada kehidupan yang bermakna
Semoga Tuhan sisakan satu untuk kita

Depok, 7 Januari 2019

-----------------


Takdir itu ilmiah

Sampai suatu ketika
Telingamu kutarik
Matamu bingung menelisik
Hingga kau sadar lepas aku berbisik
Bahwa rencana ini bukan semata imajinasi
yang kau gantung di langit-langit pabrik

Ini adalah takdir yang digariskan
Takdir itu ilmiah, dan kebahagiaan akan tiba
Aku dan kau
bangkit untuk melawan
Lantas kita memberontak menerjang
Kau koyak rasionalitas mereka yang hina
Kau lemparkan harga diri hedonisme ke tong sampah
Kau jerati semua keserahakan di dunia
Dengan satu notasi pemberontakan
Tumpah ruah segala asa yang kau rasa
Kau buat mereka sadar
Kita ini insan yang bernadi
Bukan mesin mekanis yang kosong tanpa isi
Sampai persaudaraan mengangkat bendera
nada-nada kebebasan akan digaungkan
Keadilan akan ditegakkan
kita merdeka

Kau menangis haru
Kepala tikus-tikus itu diarak keliling kota
Nyanyian solidaritas bergema
Bendera perjuangan berkibar gagah
ini takdir kita, sobat
Ini kebebasan kita

Hanoi, 15 Januari 2019

------------


Adakah Utopia

Adakah Utopia
Adakah bahagia
Adakah keadilan disela keputus-asaan

Kini kau bodohi kami
Dulu kau bilang kita semua setara
Tapi ranjangmu empuk,
Kami tidur di emperan lapuk,
Kini kau khianati janji,
Dulu kau bilang semuanya milik bersama
Tapi kau curi sebagian milik kami
untuk kepentingan pribadi

Kau jerat leher kami yang merengek keadilan
Kau eksekusi kami yang menuntut hak
Kau buat semangat kami padam
Jagal, bantai, hantam
Sampai tak habis bau darah cemari udara
Satu persatu dari kami kau singkirkan
Inikah yang kita impikan dahulu, sobat?
Adakah utopia di dunia?

Kau memang korup
Pembual yang bersembunyi
dibalik propaganda fantasi
Aku lebih-lebih menangis
Menyumpah serapah segala manifesto yang kita ikrarkan bersama
menyesali kenaifan atas manusia
Meringis diantara kemunafikan dan kebusukan dunia
Berteriak hingga muak
mengimpikan utopia
takkan pernah jadi nyata

Rupanya tak ada hidup bermakna
untuk kita
Dan tuhan telah pergi
Dan dunia membuang pandangannya
Di atas singgasana para
Kau duduk dengan congkak
Di tempat yang sama dengan mereka
Kau tidur nyenyak
Di antara lusinan pengawal bersenjata

Maka biarkan aku yang tak bahagia
terus bekerja dalam jasmani yang meredup
mati dalam tubuh yang hidup
sampai akhirnya nanti,
aku menua dan tetap menderita
meringkuk membusuk disela-sela kepolosan semesta

Saigon, 1 Februari 2019


Juli 04, 2020

Letter to My 22 Years Old Self

1:17 AM Posted by Bayu Aji Pamungkas No comments

Nothing lasts forever, not the morning sun nor the setting one. Not the kisses nor the hugs. Not the laughs nor the giggles. Just live every second like it is the last because that's what it truly is.

Live for today, because life is slow-dancing in the dark. You never know what's gonna happen next and your life could be taken away from you in any second. So all those works you've been working really hard for, will be nothing to anybody if you die. Never rush your steps and experience every sensation to the fullest.

You are bonded to yourself. You own your own body, not others. You own your own mind, not others.


---
Beji, 4th of July 2020