Dunia nyata itu keras dan menyeramkan. Kita bisa saja terus mementingkan nafsu liar atas kepuasan individual, namun setelahnya apa? Ratusan ribu manusia kelaparan di luar sana, dan yang bisa kita lakukan hanyalah menyeruput kopi hitam di depan perapian hangat di atas sofa yang empuk sambil memaki-maki gagasan Karl Marx yang tidak masuk akal dan ketinggalan zaman. Padahal kita sendiri tanpa sadar telah tenggelam dalam pusaran distraksi yang masif. Kita sudah benar-benar mengenyahkannya dari alam sadar kita bahwa peradaban yang dibangun diatas sistem serakah hanyalah peradaban dekaden. Suatu selubung distopia dari realitas di atas topeng yang semu. Dan seluruh instrumen dalam sistem: keterpaparan informasi, lampu sorot media, pertumbuhan ekonomi yang acuh pada ketimpangan, semua itu berkong-kali-kong untuk menampilkan wajah dunia masa kini yang seolah indah dan baik-baik saja, padahal begitu tabir kebusukan dibuka, sesungguhnya sistem tidak pernah baik-baik saja.
Distopia ini, yaitu dunia dimana banyak orang di belahan dunia lain berjuang untuk sesuap nasi dan mati kelaparan, sesungguhnya dunia yang semacam itu tengah terjadi, saat ini dan detik ini, namun kita tidak pernah benar-benar menyadarinya. Atau kita sebenarnya sadar, tapi tidak pernah benar-benar peduli. Karena kita tenggelam dalam distraksi yang memabukkan.
Marx nampaknya keliru perihal apa yang menjadi opium masyarakat, bahwa bukanlah agama yang memabukkan, melainkan distraksi material hedonistis, simbol, dan afirmasi.
Kebahagiaan di masyarakat kontemporer rupanya begitu ironik: kekayaan materi dan pengakuan. Padahal tanpa sadar di balik kekayaan yang ia upayakan, ia terkungkung atas kebebasan waktu dan minatnya, teralienasi dari dirinya. Teralienasi dalam pekerjaan dan sosialnya. Dan pelahan-lahan semakin jauh dan menjauh, hingga teralienasi dari dunia. Tinggal lah ia menjadi seorang yang asing. Seonggok organisme yang bekerja secara fungsional 24/7, demi mengejar serangkaian materi dan status sosial.
Mungkinkah untuk kita untuk berhenti sejenak dan menarik nafas panjang, diantara kesibukan duniawi yang begitu seduktif. Jika saja sistem memungkinkan, bukankah lebih otentik untuk hidup di dalam tong seperti filsuf Diogenes yang mengajarkan bahwa kebahagiaan itu sederhana, yang hidupnya jauh dari kemewah-mewahan hipokrit Yunani, namun dapat hidup sepenuh-penuhnya dalam penghayatan tentang dunia, menjadi raja dari takdirnya sendiri, dan hidup dengan cara dan jalan yang betul-betul ia kehendaki? Ketimbang tertawa diantara para korporat dengan topeng kepura-puraan dan menjadi seseorang yang penuh kepalsuan.