Dalam hidup sesungguhnya apa yang kita maksud sebagai menjadi manusia itu?
Malaikat dan iblis mengajarkan kita tentang makna menjadi manusia
Malaikat yang sempurna
Dan iblis yang serba cacat
Manusia tak mungkin dapat menjadi sepenuhnya malaikat seperti juga tak mungkin menjadi sepenuhnya iblis
Dalam relung-relung hati manusia, terdapat separuh malaikat dan iblis yang dengannya kita hidup dan berjalan menembus waktu
Hidup adalah tentang menghargai ketidaksempurnaan.
Lalu dalam ketidak sempurnaannya itu,
terdapat kebaikan dan noda kejahatan dalam diri manusia,
ada kasih dan emosi yang terkadang diselusupkan melalui perbuatan,
terdapat kemurnian hati namun nafsu yang menggelora,
ada kegembiraan diantara kegetiran yang silih berganti dirasakan,
ada kegagahan dalam kelayuhan,
ada kebanggaan diantara keterhinaan,
ada kerendahatian di sela-sela keangkuhan.
Malaikat dan iblis mengajarkan kita tentang makna menjadi manusia
Malaikat yang sempurna
Dan iblis yang serba cacat
Manusia tak mungkin dapat menjadi sepenuhnya malaikat seperti juga tak mungkin menjadi sepenuhnya iblis
Dalam relung-relung hati manusia, terdapat separuh malaikat dan iblis yang dengannya kita hidup dan berjalan menembus waktu
Hidup adalah tentang menghargai ketidaksempurnaan.
Lalu dalam ketidak sempurnaannya itu,
terdapat kebaikan dan noda kejahatan dalam diri manusia,
ada kasih dan emosi yang terkadang diselusupkan melalui perbuatan,
terdapat kemurnian hati namun nafsu yang menggelora,
ada kegembiraan diantara kegetiran yang silih berganti dirasakan,
ada kegagahan dalam kelayuhan,
ada kebanggaan diantara keterhinaan,
ada kerendahatian di sela-sela keangkuhan.
Di dalam kedua hal yang saling bertentangan itu, terpetik sebuah keseimbangan yang menenangkan.
Menjadi manusia berarti menjadi indah sekaligus menjadi cacat.
Yang membuat manusia menjadi manusia Bukanlah kesucian yang tanpa kutukan,
melainkan kesediaan untuk menerima bahwa inilah manusia sebagai eksistensi:
menjadi sempurna karena ketidaksempurnaannya.
Menjadi manusia berarti menjadi indah sekaligus menjadi cacat.
Yang membuat manusia menjadi manusia Bukanlah kesucian yang tanpa kutukan,
melainkan kesediaan untuk menerima bahwa inilah manusia sebagai eksistensi:
menjadi sempurna karena ketidaksempurnaannya.