“born to be adventurous. ternyata grow old to be pekerja kantoran.” semacam lelucon yang belakangan makin relevan untuk mentertawai kehidupan pahit orang dewasa.
just the other day i went to kampus UI, seeing the generation look so lively and young and artsy and stress-free, and just for a split second i felt like to be home where my soul should be.
terkadang aku merasa terlalu cepat lahir. seandainya tahun segini aku masih haha hihi kuliah sastra, memaki-maki novel Leo Tolstoy di kantin kampus seusai kelas, berdebat intelek dengan kawan sekufu sambil menghisap berbatang-batang marlboro kretek.
tapi tubuh biologis menjadikan kita makhluk yang sadar akan betapa berharganya waktu. dunia terus berputar tanpa henti layaknya ular besar raksasa yang bergerak tanpa arah.
kehidupan sunyi kita saat beranjak dewasa berubah jadi titik titik kecil di ujung doa. riuh semangat dan ringan asa saat remaja berubah jadi tangis sepi pengharapan semoga esok diberi masalah yang tak lagi terlalu berat. tak lagi hal-hal yang muluk-muluk.
buat sebagian orang, sunyi ini tanda pendewasaan. namun kita tahu bahwa ini hanya bualan yg kita rapal layaknya mantra karena kita gagal mengenggam dunia dan bahwa dunia terlampau besar untuk ditaklukkan.
•••
konon kita semua pemimpi. seharusnya tak segampang ini dikalahkan usia.