I was once had a dream
A big dream
So big that i would ignore everything that has no relevance to it,
So big that it made me get rid every attempt for romantic relationship, (bcs i rationally believe 'love' will only become obstacles)
I was so passionate that there's nothing else i can think of (in everyday basis) except thinking about how i can make it comes true.
Memories were thrown back into my high school days.
Those great days of struggling,
Those courage and fighting spirits,
I miss those days.
A big dream
So big that i would ignore everything that has no relevance to it,
So big that it made me get rid every attempt for romantic relationship, (bcs i rationally believe 'love' will only become obstacles)
I was so passionate that there's nothing else i can think of (in everyday basis) except thinking about how i can make it comes true.
Memories were thrown back into my high school days.
Those great days of struggling,
Those courage and fighting spirits,
I miss those days.
But now,
i don't have them.
i don't have them.
***
Malam itu, sekitar pukul setengah dua belas malam, gue keluar buat nyari makan. Di depan gang, ada abang-abang telur gulung yang masih nangkring, menunggu pelanggan-pelanggan kelaparan yang doyan ngemil seperti gue. Gue jalan keluar gang, mengarah ke jalan raya, sambil memasang earphone di telinga. Gak lama berselang, earphone memainkan lagu klasik, Nocturne Op.9 no.2 milik Fredric Chopin. Seketika perasaan dingin menyergap gue. Lantunan nada-nada introvert yang khas Chopin berhasil membuat gue tenggelam ke dalam dunia nokturnal yang diciptakan sang komposer zaman Barok ini.
Gue terhenyuk.
Malam itu kober sudah sepi. Hanya tinggal beberapa pedagang nasi goreng dan warung indomie saja yang masih jualan. Sisa-sisa genangan air di jalan-jalan, bekas hujan beberapa jam yang lalu, membuat sendal yang gue kenakan basah dan muncul rasa tidak nyaman di kaki gue.
Malam itu kober sudah sepi. Hanya tinggal beberapa pedagang nasi goreng dan warung indomie saja yang masih jualan. Sisa-sisa genangan air di jalan-jalan, bekas hujan beberapa jam yang lalu, membuat sendal yang gue kenakan basah dan muncul rasa tidak nyaman di kaki gue.
Gue berjalan ke depan gang kober, lalu mampir ke warung makan untuk memesan semangkuk indomie rebus di pinggir jalan. Ketika hujan reda, dan cuaca sedang dingin-dinginnya, memang paling mantap kalo makan yang berkuah dan anget-anget, ditambah seruput kopi atau teh. Lebih mantap lagi kalau disaat itu, kita sedang sakit hati usai bertengkar lewat handphone.
Come to think of it.
Akhir-akhir ini gue sudah menyisihkan segala waktu dan kesibukan gue, hanya agar selalu bisa menghabiskan waktu sama dia. Berbagai undangan acara gue tolak, berbagai ajakan ngumpul dari temen temen kampus, pembubaran kepanitiaan, rapat organisasi, permohonan buat ngerevisi skripsi-skripsi temen dengan diiming-imingi imbalan pun gue kesampingkan. Gue hanya ingin bersama dia, setiap waktu, kapanpun gue bisa. Gue sadar gue sudah gila.
Akhir-akhir ini gue sudah menyisihkan segala waktu dan kesibukan gue, hanya agar selalu bisa menghabiskan waktu sama dia. Berbagai undangan acara gue tolak, berbagai ajakan ngumpul dari temen temen kampus, pembubaran kepanitiaan, rapat organisasi, permohonan buat ngerevisi skripsi-skripsi temen dengan diiming-imingi imbalan pun gue kesampingkan. Gue hanya ingin bersama dia, setiap waktu, kapanpun gue bisa. Gue sadar gue sudah gila.
I've fallen in love, so crazy, like i never ever did before. And this is kinda pathetic.
***
***
Ketika sampai di depan gang, jalanan sudah lenggang. Tidak ada lagi penjual makanan. Abang-abang telur gulung yang semula nangkring hingga jam dua belas malam, rupanya pulang lebih awal. Nggak lama setelah itu, ada pelanggannya datang pake motor celingak-celinguk nyariin abang telur gulung yang sudah pulang. Dia terlihat sedikit kecewa, lalu pergi begitu saja.
Memang kalo gue perhatiin, dagangan telur gulung itu selalu laku di Kober, daerah tempat gue ngekos. Banyak orang yang beli hampir tiap hari sampe muka-mukanya pun gue hafal karena gak sengaja liat pas mau keluar gang. Namun memang hari ini si abang telur gulung pulang lebih awal dari biasanya.
Memang kalo gue perhatiin, dagangan telur gulung itu selalu laku di Kober, daerah tempat gue ngekos. Banyak orang yang beli hampir tiap hari sampe muka-mukanya pun gue hafal karena gak sengaja liat pas mau keluar gang. Namun memang hari ini si abang telur gulung pulang lebih awal dari biasanya.
Gue berpikir sejenak, hingga akhirnya sadar, bahwa hal wajar sekali. Abang-abang telur gulung juga punya anak istrinya untuk dihidupi, dan dihabiskan waktu bersama. Dia bukan hanya ada untuk pelanggan-pelanggannya, meskipun mereka adalah sumber penghidupannya.
Kalo dipikir-pikir, sebenernya sama kayak gue dan dia. Dulu dia sempat bilang, dia nggak akan pernah pergi dari hidup gue apapun yang terjadi. Bahkan meskipun jika suatu hari kita putus dan pisah, dia bilang akan selalu ada disana buat gue. Dia sejauh berkata bahwa dia nggak akan mau nikah dengan laki-laki lain selain gue.
Harus gue bilang bahwa semua itu benar,
....sampai, dia menemukan teman-teman dan lingkungan baru, sampai kejadian tempo hari dimana kita saling menghilang tanpa kabar dalam waktu yang cukup lama (1 bulan), lalu akhirnya bertengkar hebat, dan inilah awal malapetaka perpisahan kita. Dan gue menggertak putus, dengan tidak benar-benar bermaksud begitu.
Dan dia pun, seolah sudah mau berkehendak yang sama sejak bertemu malam itu, mengiyakannya dengan mantap.
Gue terkejut bukan kepalang. Tapi gue berusaha diam dan memilih untuk menyembunyikan perasaan sedih itu dalam-dalam. Apa yang salah dengan dia? Setelah sebulan menghilang, dan dia mengikhlaskan gue gitu aja.
....sampai, dia menemukan teman-teman dan lingkungan baru, sampai kejadian tempo hari dimana kita saling menghilang tanpa kabar dalam waktu yang cukup lama (1 bulan), lalu akhirnya bertengkar hebat, dan inilah awal malapetaka perpisahan kita. Dan gue menggertak putus, dengan tidak benar-benar bermaksud begitu.
Dan dia pun, seolah sudah mau berkehendak yang sama sejak bertemu malam itu, mengiyakannya dengan mantap.
Gue terkejut bukan kepalang. Tapi gue berusaha diam dan memilih untuk menyembunyikan perasaan sedih itu dalam-dalam. Apa yang salah dengan dia? Setelah sebulan menghilang, dan dia mengikhlaskan gue gitu aja.
Meskipun sesudah putusnya kita malam itu, beberapa hari sesudahnya kita memutuskan untuk balikan lagi (atas rengekan gue), dengan permasalahan belum terselesaikan secara terang dan jelas, karena masih tidak rela berpisah, tapi rupanya..
Dia sudah berubah. Jauh berubah, 180° dari dia yang gue kenal dulu. Dulu sekali.
Dari sini, gue jadi paham, bahwa terkadang perasaan yang dalam pada saat-saat tertentu memang bisa mengakibatkan kita mengatakan hal-hal yang mustahil, yang kita sendiripun nggak yakin bisa benar-benar menepatinya atau tidak. Seperti janji dia yang bilang bahwa dia nggak akan pernah mau pergi, atau akan selalu sesayang itu,
tetapi dengan semudah itu menginginkan gue saat sudah punya tempat mencari kesenangan dan kesibukan yang baru.
tetapi dengan semudah itu menginginkan gue saat sudah punya tempat mencari kesenangan dan kesibukan yang baru.
Sekarang gue sadar bahwa orang bisa berubah. Bahwa orang tidak akan pernah berhenti terlalu lama dalam satu perhentian yang sama.
Seperti abang telur gulung yang juga punya urusan lain, yang untuknya saat ini mungkin lebih penting, begitu juga dia yang mungkin nggak akan selamanya ada buat gue. Tentu saja dia punya kehidupan untuk dijalani, ada kegiatan-kegiatan menyenangkan untuk dilakukan, dan yang terpenting.. orang-orang baru untuk disayangi. Dan diantara hal itu semua, perlahan-lahan posisi gue dihati dia pun akan tergeser dan memudar.
Seperti abang telur gulung yang juga punya urusan lain, yang untuknya saat ini mungkin lebih penting, begitu juga dia yang mungkin nggak akan selamanya ada buat gue. Tentu saja dia punya kehidupan untuk dijalani, ada kegiatan-kegiatan menyenangkan untuk dilakukan, dan yang terpenting.. orang-orang baru untuk disayangi. Dan diantara hal itu semua, perlahan-lahan posisi gue dihati dia pun akan tergeser dan memudar.
Gue paham, bahwa mungkin cuma orang yang cintanya begitu kuat yang bisa benar-benar mengatakan suatu janji dan sungguh-sungguh menepatinya, seperti kisah romantik dalam fiksi saat sang tokoh terpaksa berpisah untuk waktu yang lama, hingga akhirnya dipertemukan kembali, dan cinta itu tetap utuh seperti saat sebelum berpisah.
Tapi kenyataannya, kamu memang bukanlah perempuan dalam kisah fiksi itu. Atau Anna Kozlov dalam kisah cinta rusia pada Perang Dunia 2 yang fenomenal itu. Dan seberapapun kerasnya aku berdoa agar kamu tak berubah, aku tidak bisa memaksakan kebebasanmu, dan membatasi kebahagiaanmu.
Rupanya,
Kamu, adalah abang telur gulung.
Kamu, adalah abang telur gulung.
Dan aku, hanyalah seorang pelanggan abang telur gulung doyan ngemil yang selalu kelaparan tengah malam mencari-cari gerobakmu.
Ya. semenyedihkan itu.
***
I was once had a dream.
A big dream, about my future.
A big dream, about my future.
But for this moment in my life, i've forgot that dream. Because i feel like, i have you. And that is enough. I feel like when i'm with you, it's like the whole world is on my hand, that i don't need to fulfill my wants, that anything else doesn't really matter anymore, that i feel content, i feel complete.
She's my world, where i can feel so safe no matter how bad the problem that I have when i come to her.
She's simply my world, and i don't need anything else to be happy.
She's my world, where i can feel so safe no matter how bad the problem that I have when i come to her.
She's simply my world, and i don't need anything else to be happy.
Namun hal yang paling menyedihkan adalah, setelah pergulatan yang panjang dan melelahkan dengan diri sendiri, ternyata itu semua salah. Pemikiran yang demikian itu, sama sekali tidak tepat, ketika perasaan yang sama tidak bersambut diseberang sana. Sehingga akhirnya, gue pun sadar, bahwa jatuh cinta yang sangat dalam itu terlalu naif. Gue harus belajar untuk nggak terlalu jatuh cinta pada seseorang. Gue harus mulai ngesampingkan segala hal tentang dia sejenak, untuk sesuatu yang mungkin lebih penting (seharusnya).
Mimpi-mimpi gue yang dulu, yang sempat terlupakan, dan kini kembali dihadirkan.
Mimpi-mimpi gue yang dulu, yang sempat terlupakan, dan kini kembali dihadirkan.
Mungkin kalau dia baca tulisan ini, (I don't think she would), dia mungkin akan sedikit menyesali, namun seperti biasanya, nggak akan mencegah hal ini terjadi. Karena dia pun memang ingin gue sedikit menjaga jarak.
Dia terus membangun tembok diantara gue dan dia, yang dengan susah payah gue hancurkan.
Hingga akhirnya gue lelah, dan gue pun menyerah.
Hingga akhirnya gue lelah, dan gue pun menyerah.
Tembok itu pada akhirnya akan berdiri kokoh, menjulang tinggi, yang selama ini selalu gue persepsikan seperti sebuah pembatas yang mengerikan.
Pada kenyataannya, dia sudah berubah. Dan itu menyakitkan. Sangat.
Sedikit ironis, cukup realistis, namun banyak mengecewakan.
Sebegitu dalamnya gue sudah mengutarakan seberapa gue serius dengannya, seberapa gue sayang sama dia, dia tetap tidak bergeming dengan segala egoisme dan pemikiran yang mementingkan dirinya (dan urusan-urusannya) diatas siapapun.
Sedikit ironis, cukup realistis, namun banyak mengecewakan.
Sebegitu dalamnya gue sudah mengutarakan seberapa gue serius dengannya, seberapa gue sayang sama dia, dia tetap tidak bergeming dengan segala egoisme dan pemikiran yang mementingkan dirinya (dan urusan-urusannya) diatas siapapun.
I've done everything i can, I've desperately done my best to literally say this to her so that she can understand, but if that's what she really wants to do and makes her happy, and if that's the reality that i have to face now, then indeed there's nothing else i can do to change that. I hope she's happy with her decisions.
***
Cukup lama gue tertegun menerawang ke dalam imajinasi gue tentang gerobak abang telur gulung yang seharusnya ada di depan gue, di depan warung indomie yang sudah tutup.
Berakhirnya lagu Claire de Lune oleh Debussy di earphone gue dan disambut dengan hentakan lagu rock yang tiba-tiba membuat terperanjat, gue pun menghela nafas panjang dan berat.
Cukup lama gue tertegun menerawang ke dalam imajinasi gue tentang gerobak abang telur gulung yang seharusnya ada di depan gue, di depan warung indomie yang sudah tutup.
Berakhirnya lagu Claire de Lune oleh Debussy di earphone gue dan disambut dengan hentakan lagu rock yang tiba-tiba membuat terperanjat, gue pun menghela nafas panjang dan berat.
"Sepertinya gue harus mulai berjalan lagi", pikir gue.
Karena mungkin memang sudah waktunya.
Karena mungkin memang sudah waktunya.
So from now on, i will start again. To chase my old dreams.
And then "why?", you may ask.
That is because...
That is because...
She is simply no longer my world.
-----
Beji, Januari, 2019
0 Thoughts:
Posting Komentar